pohon iman
Seperti pohon itu, punya masa dimana kita merasa “subur”, penuh kebahagiaan, kesuksesan dan kegembiraan dan ada saatnya kita merasa “gugur”, ada kekecewaan, kesedihan serta kegagalan. Tapi, cobalah untuk selalu mengingat bahwa kita punya “akar” kuat yang akan selalu menopang dahan hidup kita.

Jika musim pancaroba tiba, ada satu pemandangan yang sangat saya suka. Pemandangan yang hampir serentak terjadi seantero kota membuat perjalanan ke kantor saya menjadi indah dan segar terasa. Apalagi kalau kemudian di depan mata, saya diberi pemandangan daun-daun berguguran. Satu-satu, menyentuh bumi. Meski saya belum pernah ke luar negeri, saya pikir pemandangan tersebut tidak jauh berbeda dengan saat musim gugur di negeri yang mengenal empat musim.

Beberapa kali dalam hidup , saya mengalami rasa lelah bukan badan, bosan, kecewa, merasa serba salah, tidak jelas menentu arah atau bahkan berlinangan air mata akibat sebuah peristiwa. Ketika hal itu terjadi, hidup saya terasa yang paling berat dari orang lain. Tak berarti apa-apa lagi. Semangat hidup yang awalnya menjadikan hidup penuh makna seolah hilang tanpa bekas. Saya menjadi seperti kosong, tak berisi. Sia-sia.

Kalau sudah begini, tak jarang pula saya menyalahi hidup. Merasa tidak diperlakukan dengan adil oleh Sang Penguasa Hidup. Lebih parah lagi menyalahi orang-orang di sekitar yang sebenarnya tidak ada hubungannya apa-apa. Kemarahan ini bisa menjadi permakluman banyak orang manakala mereka tahu kondisi saya yang memang terlihat begitu berat, down dan harus mendapat belas kasih. Berbeda sekali dengan hari-hari lain dimana keceriaan dan kebahagiaan seperti tidak habis-habis mendatangi saya. Gundah gulana pun rasanya enggan dekat-dekat dengan diri saya. Pokoknya saya terlihat mandiri dan bisa membuat setruman istimewa juga bagi orang lain sehingga sama-sama merasa bahagia.

Tapi, tidakkah saya merasa harus segera bangkit untuk terus menjalani hidup ini? Bangkit bersama keberhasilan serta kegagalan yang saya alami?

Memang susah menerima segala bentuk kegagalan, bahkan yang terkecil sekali pun. Apalagi terkadang kegagalan tidak seperti musim yang masih bisa sedikit dilacak. Kegagalan seringkali datang tiba-tiba, tanpa permisi membuat kita belum merasa siap. Alasan beban hidup yang mau nggak mau harus saya terima, kadang menjadi alasan yang dihalalkan untuk menyatakan ketidaksanggupan saya menerima bentuk kegagalan.

Padahal, sebagaimana orang beragama yang percaya bahwa Sang Maha Pencipta telah menyiapkan segala sesuatu jauh sebelum kita dilahirkan, bentuk keberhasilan atau kegagalan itu adalah salah satu pembelajaran yang diberikan olehNya. Ia mengajarkan bahwa ada saatnya manusia memang harus seperti musim meski bukan berarti menyerah.

Selayaknya pemandangan yang selalu menyita mata saya ketika musim pancaroba itu tiba demikian pula kiranya manusia. Sekokoh apa pun sebuah pohon, kalau memang saatnya tiba untuk menggugurkan daunnya, maka pohon itu akan melakukan hal itu. Bahkan jika memang harus merelakan ranting-ranting tuanya patah tertiup angin atau malah sengaja ditebang manusia, pohon itu pun harus menerimanya. Bukan karena dia tak mampu berbuat apa-apa, tetapi karena memang demikianlah kehidupan harus berputar demi sebuah keseimbangan serta hukum alam.

Dan, ketika pucuk-pucuk daun mulai muncul kemudian angin menyemaikan pucuk-pucuk menghijau itu menjadi daun-daun baru yang bergerombol sehingga kembali merimbunkan pohon kokoh tersebut, niscaya akan memberi pemandangan lain yang tak kalah indah. Lebih segar mata karenanya. Kegairahan baru dimulai kembali. Bentuk gugurnya daun atau patahnya ranting bukan menjadi hal yang dilupa, tetapi menjadi kesatuan utuh, saling melengkapi dari sang pohon itu agar tetap berdiri bahkan ketika musim gugur kembali terulang.

Lalu, terbersit pertanyaan menyeruak, bagaimana bisa pohon itu bertahan dalam segala kondisi sementara banyak kondisi juga tidak berkompromi terhadap pohon itu?

Jawabnya, karena pohon itu mempunyai akar yang kuat. Akar yang menopang dahan pohon dalam kondisi apa pun. Akar yang menyimpan banyak air ketika musim kering tiba sehingga ketahanan hidup pohon pun bisa lama. Akar pula yang tetap membuat pohon itu ada meski batang pohon itu sebagian besar ditebang. Kecuali jika akar itu ditebang juga, pohon itu pun tak kan bisa berbuat banyak. Mungkin memang itulah saatnya dia harus meninggalkan dunia.

Kita pun demikian adanya. Seperti pohon itu, punya masa dimana kita merasa “subur”, penuh kebahagiaan, kesuksesan dan kegembiraan dan ada saatnya kita merasa “gugur”, ada kekecewaan, kesedihan serta kegagalan. Tapi, cobalah untuk selalu mengingat bahwa kita punya “akar” kuat yang akan selalu menopang dahan hidup kita.

Akar itu adalah iman.

Iman kepada Tuhan.  (anj 17)