Ide di kepala, banyak sekali….

Diapain yahhh???

  • dipilah jenisnya, apakah termasuk fiksi (panjang atau pendek) atau non fiksi
  • dicari gayanya, mau yang realis, romantis, komedi, puitis, gabungan
  • tulis saja semua yang melintas di kepala, sebisa mungkin tetap pada jalur tema dan jenis tulisan yang telah ditetapkan
  • setelah ditulis sampai titik penghabisan, baca ulang lagi. Kalau yang pertama Anda menjadi penulis, coba kali ini andaikan Anda menjadi pembaca jadi bisa mengetahui kira-kira apakah sebagai pembaca Anda bisa mengerti tulisan itu atau enggak?

Sudah ditulis sampai tanda titik penghabisan, diapain lagi?

Kalau belum PD dengan tulisan Anda sendiri, coba biarkan teman terdekat yang dipercaya membaca tulisan itu dan memberi masukan-masukan. Anggap saja dia sebagai editor awal. Jangan lupa, Anda tetap pemilik utama naskah mentah itu, so pastikan naskah itu tetap ada dalam “genggaman” sendiri bukan diambil orang lain.

  • kalau sudah PD, naskahnya diapain dong?
  • coba cari alamat media yang ingin Anda kirim: koran, penerbit atau hanya nulis di blog (why not?)
  • kalau sudah ketahuan alamat atau CP media yang Anda mau, lihat baik-baik apakah di sana mencantumkan apakah memperbolehkan mengirimkan naskah lewat email atau lewat pos?

Saran saya untuk pengiriman naskah ini:

  • kalau tulisan pendek, jika memang diperkenankan, silahkan mengirim lewat email, dengan catatan: cantumkan rubrik apa yang Anda maksud di subyek pengiriman, misal CERPEN: Menunggu Senja
  • jika tulisan Anda berupa tulisan panjang sebaiknya kirimkan print out nya lewat pos. Ini untuk memudahkan meringankan beban redaksinya membaca. Bayangkan 10 orang mengirim jenis tulisan yang sama minimal 100 halaman, apa nggak gempor tuh redaksi nge-print atau mlototin komputer tiap hari?
  • baik juga kalau mengirim sendiri ke redaksi yang dimaksud, selain kenalan dan silahturahmi, kita juga bisa tahu sebenernya apa sih yang dimau atau gaya dari redaksi itu? Syukur malah tulisan kita bisa langsung dikomentari jadi bisa ketahuan letak kekurangannya dimana
  • khusus untuk menulis di blog, jangan dipikir itu cuman pelampiasan hasrat yang tidak menjanjikan lho. Banyak tuh penulis blog akhirnya bisa buat buku karena tulisan di blognya

Langkah selanjutnya setelah dicoba dikirim ke redaksi, gimana?

  • menunggu, biasanya redaksi memberi batas maksimal tertentu atas naskah yang kita kirim, misal kalau cerpen sekitar sebulan, kalau novel maksimum 3 bulan
  • nggak salah juga kok kalau kita pro aktif ke redaksinya daripada menunggu nggak pasti kan?
  • kalau sembari nunggu itu boleh nggak ya kita juga ngirim ke redaksi lain?
  • sebenernya nggak ada larangan mau mengirimkan naskah yang sama ke redaksi lain. Tapi, ingat lho “kesan pertama harus menggoda”. Kalau ternyata di redaksi pertama ada lampu hijau sementara di redaksi kedua juga sudah hampir memberi keputusan, rasanya nggak etis kita menduakan begitu. Lebih baik, memang menunggu saja dulu.
  • baik juga kita melampiaskan ide lain yang ada banyak di kepala itu, siapa tahu bisa membuahkan karya berikutnya

Ada nggak hal lain yang kira-kira bisa mencuri perhatian redaksi atas naskah kita?

Ada dooonnnggg…

  • kreatif…, maksudnya cb bikin sesuatu yg sedikit beda dr naskah lainnya, misal sudah di setting lay-out seperti buku, ada ilustrasinya atau bahkan hanya gambar covernya yg sedikit mencolok dll
  • orisinil… buat sebuah cerita yg memang bener-bener beda dari naskah kebanyakan, misal ide cerita, gaya bahasa dll… tentu saja tetap jangan lupakan EYD standar ya… (penempatan tanda baca, pemenggalan kalimat, pemakaian paragraf dll)
  • mengidolakan seorang penulis kenamaan boleh-boleh saja, tapi tetaplah menjadi diri sendiri, keluarkan ciri khas yg Anda punya, jangan takut ini-itu sebab seiring waktu, tulisan Anda pasti akan menjadi semakin baik
  • sempatkan ke redaksi dan ngobrol-ngobrol spt yg pernah dituliskan sebelumnya… seenggaknya orang redaksinya mengenal Anda
  • sering-seringlah membaca karya orang dan selalu menulis dimana saja, seberapa pun jadinya tulisan Anda

TAAAPPPIIII…

Lebih dari itu semua, yg paling baik adalah MENULISLAH DENGAN HATI

Sebab kalau menulis dengan hati, maka bukan saja kalimat per-kalimat bisa “bicara”, tetapi juga cerita keselurahan akan mudah dan gampang dicerna.

So…

Mari menulis…