Penulis: Carlos Michael Kodoati, Pemimpin Redaksi Koma

Ada suatu kesatuan dari unsur-unsur orang belajar filsafat. Suatu kesatuan itu adalah kesatuan logos, eros, pathos dan ethos. Logos selalu berhubungan dengan intelektualitas, eros dihubungkan dengan bagaimana orang mencintai (dalam arti kreatifitas), pathos adalah solidaritas (dimana perasaan dan keprihatinan ada didalamnya), dan ethos yang lebih mengarah pada persoalan moralitas dan kerohanian. Subianto kemudian menguraikan empat hal ini dalam hubungannya dengan empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO (United States of Educational Scientical and Cultural Organization).

Pendidikan sebagai unsur penting bagi dunia dewasa ini, tak dapat dikesampingkan lagi perannya dengan dan untuk alasan apapun.. Empat pilar ini dipandang paling ideal guna mewujudkan pendidikan yang ideal bagi kemanusiaan. Ke-empat pilar itu adalah learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Lebih lanjut dihubungkan dengan empat hal yang disampaikan tersebut, learning to know adalah logos, learning to do adalah eros, learning to be adalah ethos dan learning to live together adalah pathos.

Confusius (551-479 s/M)

Dibelahan dunia lain, yakni di Yunani hampir pada waktu bersamaan, konsep empat pilar ini telah muncul seperti yang dipaparkan oleh Dr. Antonius Subianto di atas, juga abad 6 s/M, atau jauh sebelum empat pilar ini dicanangkan oleh Badan PBB itu, Konfusius yang dianggap sebagai guru pertama dalam sejarah Tiongkok, paling tidak telah menyiratkan konsep yang mengarah kepada empat pilar ini.

Siapakah Konfusius? Konfusius (551-479 s/M) adalah latinisasi dari nama Kǒng Fūzǐ. Nama kecilnya Khung Chiu atau Zhong Ni. Ia lahir di dekat kota yang sekarang dikenal sebagai Qūfù, waktu itu negeri Lǔ (bagian tenggara dari provinsi Shāndōng, sekarang selatan Beijing) . Namanya sering disingkat menjadi Kǒngzǐ. Melalui ajarannya yang melahirkan mahzab Ju yang beranggotakan kaum cendikiawan zaman itu, Kǒngzǐ banyak menekankan pentingnya pendidikan bagi kemanusiaan dan lebih jauh lagi Kǒngzǐ menyajikan unsur-unsur kemanusiaan yang penting dalam kehidupan untuk dikembangkan lewat pendidikan. Kǒngzi dikenal juga sebagai guru pertama di Tiongkok yang memperjuangkan tersedianya pendidikan bagi semua orang dan menekankan bahwa pendidikan bukan hanya sebagai suatu kewajiban semata-mata, melainkan suatu cara untuk menjalani kehidupan ini. Ia mempercayai bahwa semua orang dapat menarik manfaat dari hasil pengolahan diri dalam belajar. Kǒngzi mengabdikan seluruh hidupnya untuk belajar dan mengajar dengan tujuan meningkatkan dan mengubah kehidupan sosial saat itu. Dikebanyakan Negara Asia Timur, kelahiran Kǒngzi diperingati pada tanggal 28 September dan di Taiwan pada hari tersebut diberlakukan sebagai hari libur nasional atau ‘Hari Guru’.

Benang merah antara ajaran Konfusius dengan program UNESCO

Menurut PBB melalui UNESCO, Learning to know adalah belajar untuk mengetahui. Dengan pilar ini UNESCO hendak menekankan agar anak-anak memperoleh pengetahuan yang benar sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Kǒngzǐ pun berpandangan bahwa hakekat manusia adalah baik. Ia juga menekankan bahwa salah satu alasan utama orang menjadi tidak baik adalah karena ketidaktahuan. Maka bertentangan dengan Daoisme yang berpandangan bahwa pengetahuan merusak kemanusiaan yang baik, Kǒngzǐ justru mengajarkan agar orang terus belajar dan mencari pengetahuan seluas-luasnya. Konsep Kǒngzǐ ini diterapkan secara luas dengan memberi tempat yang kuat bagi seni, puisi, sastra, dan bahkan tradisi demi mengimbangi ajaran filsafatnya. Seni menjadi sarana hiburan batiniah yang sekaligus menyeimbangkan keutuhan manusia. Atau dengan kata lain pengetahuan yang dipikirkan Kǒngzǐ memang tidak hanya sebatas ilmu rasional tetapi juga meluas pada pengetahuan yang mengolah rasa, jiwa, dan spiritual manusia. Dengan demikian learning to know adalah proses mencari pengetahuan seluas mungkin dengan sasaran keutuhan manusia dalam akal budi, hati nurani, dan spiritual. Hal ini mirip dengan paham antropologi modern yaitu pneuma, psyche, dan soma.

Learning to do adalah belajar untuk melakukan. Hal ini ditetapkan sebagai arah pilar yang kedua yakni pada kemampuan untuk bertindak dan berkarya. Pengetahuan yang luas harus diterapkan untuk bisa dijadikan sebuah tindakan dan karya yang baik. Sejalan dengan itu, Kǒngzǐ pun telah menekankan bahwa orang harus berbuat atau berkarya. Bertolak belakang lagi dengan Daoisme yang mengajarkan agar “tidak melakukan apa pun”, Kǒngzǐ mengajarkan (berbicara tentang moral) “berbuat tanpa pamrih”. Kǒngzǐ sering mengaitkan ini dengan konsep Ming (sering diterjemahkan sebagai takdir, nasib) yaitu orang harus tetap berusaha untuk berbuat dan berkarya yang baik tanpa pamrih karena nilai luhur dari tindakan bukanlah terletak pada hasil melainkan pada proses di mana orang melaksanakan sesuatu tanpa menghiraukan apakah secara lahiriah perbuatan itu berhasil atau gagal. Kǒngzǐ berkata “Manusia bijaksana bebas dari keragu-raguan; manusia berbudi luhur bebas dari perasaan cemas; manusia yang berani bebas dari ketakutan”. Ucapan ini berarti orang akan bahagia jika bebas dari kecemasan apakah akan berhasil dan bebas dari ketakutan akan gagal. Jadi, tindakan dan berkarya adalah sebuah kewajiban manusia di mana nilai dari tindakan itu bukanlah lahiriah berhasil atau gagal melainkan pada keteguhan untuk selalu berusaha melakukannya dengan baik.

Learning to be adalah belajar untuk menjadi. UNESCO meletakan pilar yang ketiga yaitu sikap tenggang rasa atau merasa “menjadi” terhadap orang lain. Dalam ajaran Kǒngzǐ, learning to be sepadan dengan teori tenggang rasa (Chung) dan altruisme (Shu). Teori tenggang rasa (Chung) dijelaskan dengan perkataan, “Lakukanlah kepada orang lain sesuatu yang kamu sendiri ingin orang lain melakukannya untukmu”. Teori altruisme (Shu) yaitu “Jangan lakukan kepada orang lain sesuatu yang kamu tidak ingin orang lain melakukannya padamu”. Maka jelaslah bahwa Kǒngzǐ pun telah memiliki kesadaran pentingnya merasa “menjadi” terhadap orang lain. Hal ini menunjukkan olah rasa yang diasah yaitu menjadi mengerti akan orang lain seperti diri sendiri, menjadikan diri sebagai tolak ukur refleksi moral. Selain itu juga ada ajaran pembetulan nama yaitu orang hidup sesuai dengan nama (jabatan, peran sosial). “Hendaknya penguasa menjadi seorang penguasa, menteri menjadi menteri, ayah menjadi seorang ayah, dan anak menjadi seorang anak”. Maka orang perlu menghidupi atau menjadi sesuai “nama”-nya.

Learning to live together adalah belajar hidup bersama. UNESCO meletakkan pilar keempat yaitu orang belajar untuk hidup bersama orang lain atau bersosialisasi dalam masyarakat. Kǒngzǐ pun telah menegaskan bahwa kemanusiaan yang tertinggi adalah pada tahap hidup sosial bersama orang lain. Dalam hal ini kita temukan rasa kemanusiaan (jen) sebagai landasan moral dan etika. Pada kesimpulannya Kǒngzǐ menyatakan bahwa cinta kasih. “Rasa kemanusiaan terkandung dalam sikap mengasihi terhadap manusia yang lain”. Manusia yang benar-benar mengasihi orang lain adalah manusia yang dapat melaksanakan kewajibannya dalam masyarakat.

Oleh karena itu, di era modern ini tampak nyata bahwa pemikiran Kǒngzǐ masih relevan untuk dapat diterapkan. Sekalipun pandangan UNESCO tetang keempat pilar pendidikan yang ideal tidak murni bertolak dari paham ajaran Konfusianisme tetapi inti yang hendak disampaikan mengakar pada suatu prinsip yang sama yaitu humanisme yang merupakan takaran ukuran kemanusiaan yang integral dalam keseluruhan aspek ontologis manusia.